Tajukperistiwa.com, Koltim || Pemerintah Daerah Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, dibawah kepemimpinan Bupati Abd Azis, SH., MH terus membuktikan komitmen kuat dalam menurunkan angka Stunting di Wonua Sorume, Rabu (20/5/25)
Hal ini dibuktikan dengan rilis Kementerian Kesehatan RI melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) bahwa hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, menunjukkan Kolaka Timur merupakan kabupaten terbaik dari 17 kabupaten dan kota di Sultra dalam hal percepatan penurunan Stunting
Atas kerja keras seluruh pihak tersebut, Pemda Koltim sukses turunkan angka prevalensi Stunting secara drastis sebesar 14,4 persen, di mana tahun 2023 lalu angka Stunting di Kolaka timur capai 31,3 persen dan tahun 2024 angka Stunting di wonua sorume turun hingga 16,9 persen
Kerja kolaboratif dari berbagai program pemerintah daerah Kolaka Timur dalam menurunkan angka Stunting di Wonua Sorume menjadi salah satu faktor penurunan angka tersebut.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Jumaeda, S.KM, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan kerja keras seluruh pihak baik pemerintah daerah melalui Tim percepatan penanganan Stunting, Forkopimda, Kecamatan, kelurahan, desa, serta seluruh elemen masyarakat termasuk insan pers

“Capaian ini tidak mudah, namun berkat kerja keras seluruh pihak dibawah kepempinan Bupati Koltim, Abd Azis, SH., MH, angka Prevalensi Stunting berhasil kita turunkan hingga 14,4 persen” ucapnya
Ia berharap, tahun 2025 ini angka prevalensi Stunting di Kolaka Timur dapat dicapai di bawah angka rata-rata nasional. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan kerja-kerja kolaboratif seluruh pihak
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa Pelaksanaan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) secara berkala, seperti yang dilaksanakan tahun 2024, menjadi salah satu instrumen utama dalam memantau kondisi dan perkembangan status gizi balita secara nasional.
“Survei ini dirancang untuk memperoleh data akurat dan terpercaya terkait prevalensi stunting, faktor risiko terkait, serta efektivitas intervensi yang telah dilaksanakan” ujar Kadis PP dan KB Koltim ini
“Manfaat utama dari pelaksanaan SSGI adalah sebagai dasar pengambilan kebijakan, perencanaan program, dan evaluasi keberhasilan strategi penurunan angka stunting nasional secara sistematis dan berkelanjutan” sambungnya
Menurutnya, dengan data yang komprehensif, diharapkan seluruh pemangku kepentingan dapat melakukan penyesuaian kebijakan secara tepat, prioritas wilayah dan sasaran yang membutuhkan intervensi lebih intensif, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas program-program pencegahan dan pengendalian stunting.
Data yang dihasilkan dari SSGI 2024 kata dia, dapat digunakan untuk menyusun berbagai strategis nasional dan daerah dalam mencapai target penurunan angka stunting sesuai target RPJMN dan SDGs.
“Penggunaan data tersebut diharapkan mampu menekan prevalensi stunting secara signifikan dalam jangka menengah dan panjang, serta meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas generasi masa depan bangsa Indonesia” tutupnya
Laporan : Helni Setyawan
Langsung ke konten

















