Tajukperistiwa.Com-Moramo Utara || Balai Kelurahan Lalowaru menjadi saksi pecahnya jeritan hati masyarakat, Selasa(27/1/26).
Wajah-wajah letih, suara bergetar, dan amarah yang lama terpendam mewarnai penyampaian aspirasi warga yang menuntut pergantian Lurah Lalowaru.

Hari ini, balai kelurahan tak lagi sekadar menjadi ruang pelayanan, melainkan tempat tumpahnya luka kepercayaan Rakyat.
Warga dengan lantang menyuarakan kekecewaan mendalam atas sikap lurah yang dinilai arogan dalam menjalankan roda pemerintahan.
Kepemimpinan yang seharusnya mengayomi justru dirasakan menjauh, membungkam, dan menutup ruang dialog.

Aspirasi warga, menurut mereka, kerap diabaikan, musyawarah tak lagi menjadi pijakan, dan kekuasaan berjalan tanpa nurani.
Korlap (Koordinator lapangan) Bento alias Julia Labudu, mengatakan dengan lantang Bupati Konawe Selatan harus bertanggungjawab dan mengganti Lurah lalowaru karena telah melaksanakan pemerintahan dengan arogan tanpa mengedepankan musyawarah mufakat Sambil membacakan beberapa Tuntutan.

“Mosi tidak percaya kepada Lurah Lalowaru, penyegaran /pergantian pengurus dan panitia pembangunan masjid yang tidak melibatkan tokoh agama atau organisasi keagamaan serta tokoh lainya. juga telah mengintervensi dan mengambil alih kepengurusan masjid tersebut. pemberhentian RT/RW tidak melalui mekanisme yang legal disertai dengan mundurnya beberapa perangkat disebabkan diskoneksi. Mundurnya Instrumen kepengurusan KDKMP secara serentak menandai disharmonisasi. Mundurnya imam masjid Kelurahan mengakibatkan pelayanan keagamaan terganggu. Indikasi adanya pungli. Arogansi dalam Pelaksanaan pemerintahan. Penetapan pemangku adat tidak melalui mekanisme dengan melibatkan Tokoh adat dan para Tokoh lainya”. Tegas Bento.
Di hadapan warganya sendiri, Lurah Lalowaru menyaksikan penyampaian aspirasi tersebut dengan menyikapi keadaan yang sedang berlangsung.
Namun bagi masyarakat, pertemuan itu adalah puncak dari kesabaran yang telah lama terkikis.
Tuntutan pergantian lurah bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kelelahan kolektif atas kepemimpinan yang mereka anggap telah kehilangan rasa.
Aspirasi ini disampaikan dengan satu harapan besar, agar Bupati Konawe Selatan mendengar jeritan warga Lalowaru.
Mereka berharap kepala daerah tidak menutup mata terhadap suara rakyat kecil yang merasa terpinggirkan di tanahnya sendiri.
“Kami tidak meminta lebih. Kami hanya ingin dipimpin dengan hati, bukan dengan arogansi,” tegas salah satu tokoh masyarakat yang hadir.

Aksi Damai penyampaian aspirasi dikawal langsung Kapolsek Moramo Utara beserta jajaranya
Setelah Aksi damai berakhir di Kantor kelurahan Masa aksi yang berjumlah sekitar Lima Puluh Orang bergerak menuju Kantor Camat Moramo Utara untuk melakukan hal serupa.
Ketika pertemuan usai, balai kelurahan kembali sunyi. Namun luka dan harapan warga Lalowaru masih menggantung di udara.
Kini, nasib aspirasi itu berada di tangan pemerintah kabupaten Konawe Selatan, sementara masyarakat hanya bisa menunggu.
apakah jeritan mereka akan dijawab, atau kembali tenggelam dalam diam yang menyakitkan.
Lap:anditenrie.
Langsung ke konten

















