Tajukperistiwa.Com – Konawe Selatan || Di tengah derasnya wacana pembangunan dan janji pemerataan pendidikan, masih ada potret memilukan yang luput dari perhatian. Potret itu datang dari pelosok Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan, tepatnya di SD Negeri 19 Kecamatan Kolono Konawe Selatan,Selasa(12/5/26).
Di sekolah sederhana itu, para Guru PPPK Paruh Waktu tetap setia mengabdikan diri demi mencerdaskan anak bangsa, meski harus mempertaruhkan keselamatan setiap hari.
Jalan berlumpur, licin, penuh kubangan, dan nyaris tidak layak dilalui menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Dengan kendaraan seadanya, para guru harus menembus jalur ekstrem demi sampai ke sekolah.
Tidak jarang mereka harus turun dari motor, mendorong kendaraan di tengah lumpur tebal, bahkan jatuh berkali-kali sebelum tiba di ruang kelas tempat anak-anak menunggu ilmu dan harapan.
“Kami tidak pernah meminta jalan hidup yang mudah, tetapi setidaknya berikan kami jalan yang layak untuk mengabdi. Setiap hari kami harus melawan lumpur, takut jatuh, takut celaka, demi sampai ke sekolah dan melihat anak-anak tetap bisa belajar. Mirisnya, pengabdian kami sebagai Guru PPPK Paruh Waktu seakan tidak pernah benar-benar dihargai. Namun meski lelah dan terluka, kami tetap bertahan, karena di ruang kelas kecil itu ada masa depan anak bangsa yang tidak boleh kami tinggalkan.” Ujar Ibu Guru Ruhaeda.

Ironisnya, pengabdian yang begitu besar itu tidak berbanding lurus dengan status maupun kesejahteraan yang mereka terima.
Guru PPPK Paruh Waktu masih berada dalam ketidakpastian, dengan penghasilan terbatas, minim perlindungan, dan tanpa jaminan kesejahteraan yang layak.
Namun keadaan tersebut tidak pernah memadamkan semangat mereka untuk tetap hadir mengajar Setiap hari mereka berjuang melawan medan yang nyaris tak manusiawi.
Saat musim hujan tiba, jalan berubah menjadi lautan lumpur yang sulit dilalui. Risiko kecelakaan menjadi ancaman nyata. Tetapi demi anak-anak di pelosok yang juga memiliki hak mendapatkan pendidikan, mereka memilih tetap berangkat.
Pemandangan tragis ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah Daerah Kabupaten Konawe Selatan. Di saat para guru berjuang mempertahankan masa depan generasi bangsa, perhatian terhadap infrastruktur dasar justru terasa sangat minim.
Jalan yang setiap hari dilalui masyarakat, termasuk tenaga pendidik, dibiarkan rusak parah tanpa penanganan serius.
Miris rasanya melihat para pejuang pendidikan harus bertarung dengan lumpur hanya untuk menjalankan tugas negara.
Melihat hal itu Forum PPPK Paruh Waktu Kabupaten Konawe Selatan melalui Ketua Forum Guntur Tangapili.S.Pt angkat bicara terkait kepedulian yang dialami anggotanya.
“Forum PPPK Paruh Waktu Kabupaten Konawe Selatan menegaskan bahwa pengabdian para guru paruh waktu tidak boleh lagi dipandang sebelah mata. Pemerintah daerah harus hadir dengan langkah konkret, baik dalam percepatan perbaikan infrastruktur jalan menuju wilayah pendidikan maupun dalam memperjuangkan kepastian status serta peningkatan kesejahteraan Guru PPPK Paruh Waktu” harapnya.
Mereka bukan meminta kemewahan. Mereka hanya berharap ada kepedulian, ada akses jalan yang layak, dan ada penghargaan nyata atas pengabdian yang selama ini mereka jalankan dengan penuh ketulusan.
Guru PPPK Paruh Waktu di SD Negeri 19 Konawe Selatan telah menunjukkan arti pengabdian sesungguhnya. Ketika sebagian orang menyerah pada keadaan, mereka tetap berdiri teguh demi masa depan anak-anak bangsa.
Namun pertanyaannya, sampai kapan perjuangan ini harus terus dibiarkan berjalan sendiri tanpa perhatian dan keberpihakan nyata dari pemerintah.
Sudah saatnya pemerintah daerah membuka mata dan hati. Pendidikan tidak akan pernah maju jika para guru dibiarkan berjuang sendirian di tengah jalan yang hancur dan kesejahteraan yang terabaikan(Red/tg).














